Sabtu, 28 September 2013

Pribadi yang Berkualitas Pribadi yang Berkualitas

Hubungan Seorang Anak Dan Ayahnya

ayah dan anak“Ayah, ayahnya temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang agar nyamuk itu tdk menggigit anaknya. Apakah Ayah juga akan melakukan hal yang sama?”.
Sang Ayah tertawa “Tidak nak, ayah akan memasangkan kelambu agar nyamuk tidak dapat menggigit siapapun”.
“Oh iya, aku juga membaca tentang seorang Ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Apakah Ayah akan melakukan hal yang sama?”, si anak kembali bertanya.
Dengan tegas Ayahnya menjawab “Ayah akan bekerja keras agar kita semua dapat makan kenyang.”
Sang anak tersenyum…dan berkata : “Terimakasih..Aku bisa selalu bersandar padamu Ayah..”
Sambil memeluk dan mengusap rambut sang anak, si Ayah berkata “Tidak Nak..!! Tapi ayah akan mengajarimu untuk berdiri kokoh diatas kakimu sendiri, agar kau tidak jatuh tersungkur ketika ayah harus pergi meninggalkanmu ‘suatu saat nanti’
Kiranya jadi berkat dan teladan buat kita semua

Melukai Hati Tuhan Melukai Hati Tuhan

Suatu hari, seorang dosen Teologia memasuki sebuah kelas, meletakkan sebuah papan Target besar berbentuk lingkaran dan tak jauh dari sana diletakkan sebuah meja dengan banyak anak panah diatasnya, serta ada kertas dan perlengkapan untuk menggambar.
Saat itu, ia berkata kepada mahasiswa/i nya: “masing-masing ambillah selembar kertas dan alat gambar, lalu gambarlah wajah seseorang yang Anda tidak suka, orang yang selalu membuatmu marah.”
Ada yang mnggmbar wajah temannya, ada juga seorang mahasiswa menggambar wajah ayahnya, ada pula wajah rektor dan dosen-dosen yang tidak mereka sukai. Masing-masing mahasiswa sudah menyelesaikan gambarnya.
Secara bergilir mereka mulai menyematkan hasil gambar mereka ke papan Target, lalu mereka mulai melemparkan anak-anak panah pada gambar tersebut. Beberapa mahasiswa menunjukkan kebencian sekaligus rasa puas ketika melemparkan anak panah pada orang yang dibencinya. Tak berapa lama, sang dosen menyuruh mereka untuk kembali duduk karena waktunya sudah habis.
Sang dosen menurunkan gambar dan juga papan Target dari tembok. Kini yang tampak adalah gambar YESUS yang ternyata berada dibalik papan Target. Keheningan memenuhi kelas ketika setiap mahasiswa memandang gambar Yesus tersebut. Gambar wajah dan mataNya penuh lubang, bahkan ada yang robek karena hujaman anak-anak panah tadi.
Sang dosen hanya berkata singkat, “Apa yang kamu lakukan terhadap sesamamu, kamu telah melakukannya terhadap Yesus.” Puluhan pasang mata mahasiswa menitikkan air mata. Mereka kini menyadari bahwa dengan membenci sesamanya, mereka telah melukai hati Yesus.

Yoh 14:15 berkata, “Jikalau kamu mengasihi AKU, kamu akan menuruti segala perintah-KU”. Kasih kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kaih kepada sesama, karena mengasihi sesama merupakan perintah Tuhan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus, tetapi kita masih  membenci sesama kita. Jika saat ini kita menyimpan kebencian kepada seseorang, ingatlah bahwa target kebencian kita adalah Yesus karena apa yang kita lakukan terhadap sesama, kita telah melakukannya terhadap YESUS.

Setiap Langkah Adalah Anugerah

Belajar Dari Nilai kehidupan

setiap langkah adalah anugerahSeorang professor diundang untuk berbicara disebuah basis militer. Disana ia berjumpa dengan seorang yang tak mungkin ia lupakan, yaitu RALPH yang diberi tugas menjemputnya dibandara. Ketika berada dibandara Ralph sering menghilang, ada saja yang dilalukannya, ia membantu seorang wanita tua yang kopernya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dpt melihat sinterklas, ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Namun ia selalu kembali kesisi sang Professor dengan senyum lebar.
Waktu di dalam  mobil mereka ngobrol: “Dari mana anda belajar melakukan semuanya ini ? Tanya sang prof
“Melakukan apa? Tanya Raplh
“Dari mana anda belajar bersikap seperti ini ? Desak sang Prof
“Oh” kata Raplh” selama perang…saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal
Lalu ia bercerita sewaktu ditugaskan di Vietnam. Ia dan timnya bertugas membersihkan ladang ranjau dan harus menyaksikan satu persatu teman-teman nya tewas terkena ledakan ranjau.
“Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah” katanya.
Tegang disetiap langkah, Saya tidak tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir bagi saya.
yang sanggup saya lakukan takkala mengangkat kaki dengan aman, mensyukuri langkah sebelumnya
Saya kira sejak itulah, saya menjalani kehidupan seperti ini. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, Anugerah baru, dan kesempatan baru.
KEMULIAAN HIDUP, tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi org lain.
NILAI MANUSIA, tidak ditentukan bagaimana cara ia mati, tapi bagaimana cara ia hidup.
KEKAYAAN MANUSIA, bukan apa yang ia telah peroleh, tapi apa yang ia telah berikan pada sesama.
Selamat menikmati setiap langkah hidup anda……
Ingat!!! Setiap langkah adalah  ANUGERAH ..

Janganlah Kuatir

Singkirkan Kuatirmu Dan Berdoalah

Renungan Harian KristenFilipi 4:6-7 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Mengapa kita harus berdoa?
Ada banyak hal yang bisa saya katakan sebagai tanggapan dari pertanyaan ini, tetapi ini adalah salah satu alasan penting mengapa kita harus berdoa.
Doa adalah cara di mana Allah membantu kita untuk mengatasi kecemasan dan kekhawatiran kita.
Kita semua tahu bahwa hidup ini penuh masalah. Kita semua bergumul dengan kekhawatiran tentang kesehatan kita, keselamatan diri kita, keluarga kita, keuangan, dll. Dalam kenyataan ini, apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah, Berdoa!
Sering dikatakan, “Jika lutut Anda gemetar, berlututlah! Jadi, waktu berikutnya. Anda tiba-tiba dicengkeram oleh rasa khawatir, Anda dapat mengubahnya menjadi doa.”
Rasul Paulus mengingatkan kita, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala
akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)
Perhatikan bahwa Paulus tidak mengatakan, “Berdoalah tentang segala hal… Jika Anda melakukan ini, masalah Anda akan hilang.”
Sebaliknya, dia mengatakan, “Jika Anda melakukan ini, Anda akan mengalami damai sejahtera Allah, yang jauh lebih indah daripada yang dapat dimengerti oleh pikiran manusia.”
Namun  ini tidak berarti bahwa Allah tidak dapat atau tidak akan menghapus masalah-masalah Anda, karena kadang-kadang Dia akan langsung melakukannya. Namun seringkali, Dia akan memberikan kita kekuatan-Nya dan kedamaian di tengah-tengah masalah.
Dengan kata lain, kita mampu meletakkan segala sesuatu ke dalam perspektif yang tepat.
Jika Anda memiliki “Tuhan yang besar”, dalam arti bahwa Anda melihat Tuhan sebagaimana benar-benar Dia sebagai Tuhan, maka Anda akan memiliki “masalah-masalah kecil”.
Sederhananya, jika Anda melihat masalah-masalah Anda besar, maka Anda melihat Tuhan Anda kecil.Jika Anda melihat Tuhan yang besar, maka Anda akan melihat masalah-masalah Anda adalah kecil.
Salah satu hal yang disampaikan berulang kali oleh Tuhan adalah pesan jangan khawatir dan serahkanlah segala kekhawatiran Anda pada Tuhan.

Cukup untuk saya



Ketika Fisher dari Rochester keluar dari The Tower Of London untuk menjalani hukuman mati,ia mengeluarkan Kitab Perjanjian Baru bahasa Yunani dari sakunya untuk mendapatka kata-kata penhiburan. Ia membuka pada Yohanes 17, “Inilah hidup yang kekal itu,yaitu bahwa mereka mengenal engkau.” Puji Tuhan,itu sudah cukup untuk saya,” katanya,lalu melangkahlah ia dengan hati penuh damai.
Tunduk Dahulu
Pharmac mengirimkan sebuah hadiah sangat istimewa kepada Kaisar,pada waktu ia memberontak terhadap kekuasaanya. Kaisar mengembalikan pemberian itu dengan pesan – “Tunduk Dahulu”. Allah tidak menerima pemberian dari orang-orang yang memberontak terhadap dia (Yes 1:13). Bertobatlah dahulu.
Sibuk membawa orang lain
Seorang pemandu yang bertugas pada sebuah pameran besar baru-baru ini,ditanya apakah ia pernah menjelajahi seluruh pameran itu. “Belum,” jawabnya,” Saya terlalu sibuk menunjukkan jalan kepada orang-orang lain sehingga tidak ada waktu untuk pergi sendiri kelling. “ Demikianlah pula halnya dengan beberapa Pengkhotbah yang belum bertobat.(1 Kor. 9:27)
Papa Penunjuk Arah
Papa penunjuk arah itu telah ada disitu,di persimpangan jalan,selama empat puluh tahun,menunjukkan arah jalan kepada jutaan penunjuk pelancong,tetapi papan itu senidir tidak pernah bergerak satu langkah pun ke jalan yang ditunjuknya. Sama seperti seorang pengkhotbah yang  belum bertobat.
Pedang anda Dahulu
Seorang perwira Perancis,yang kapalnya telah diduduki oleh Admiral Nelson (Inggris),berjalan menghampiri Sang Admiral di atas kapal komandonya sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan. “Silahkan serahkan pedang anda Dahulu,” kata Nelson, demikian ula orang berdosa harus menyerahkan dahulu persenjataannya yang digunakan untuk memberontak,agar dapat diperdamaikan kembali dengan Allah (Roma. 5:10)

Sampai Membeku


Seekor burung elang diudara melihat bangkai disebuah lembah di bawah. Ia terbang turun ke bangaki itu dan mulai melahapnya. Ia sangat asyik menikmati makanannya seakan-akan tidak mau melepaskannya lagi. Ketika akhirnya ia bersiap-siap untuk terbang naik ia tidak dapat bergerak,karena sayap-sayapnya telah membeku dan menjadi kaku,di atas tempat ia bertengger. Demikian pula dosa,mula-mula memikat,lalu menjerat,kemudian mematikan.
Utang-utang yang Lama
“Saya akan membayar tunai tahun ini,” kata Ibu Bandi kepada pemilik toko,dengan tersenyum puas.”Tetapi bagaimana dengan utang-utang Anda dahulu?” tanya pria itu. Ia mempunyai buku catatan utang wanita itu yang sudah panjang daftarnya. Pembaruan hidup memang dimulai dengan berpegang pada prinsip: sesuai dengan uang yang tersedia. Tetapi bagaimana dengan utang-utang yang lama?
Tidak ada separuh jalan
“Apakah Anda seorang Kristen?”tanya pendeta kepada orang yang ingin menjadi anggota gerejanya. “Belum sepenuhnya,baru separuh jalan,”jawab orang itu. Tetapi bagi Kristus tidak ada istilah separuh jalan. Anda harus “Sudah Diselamatkan”atau “Pasti Binasa” (1 Kor. 1:18)
Sepuluh menit lagi
Putra kaisar Perancis mempunyai kebiasaan suka menunda-nunda. Ketika masih kanak-kanak,ia minta ijin tidur sepuluh menit lagi. Kebiasaan ini semakin mendalam: sebagai seorang anak yang sedang asyik bermain,kemudian sebagai seorang prajurit. Di Zulu,Afrika,ketika harus memimpin suatu regu yang terdiri dari enam orang,ia pergi untuk memilih tempat berkemah. Salah seorang prajuritnya berkata,”Sudah saatnya untuk kembali Pak.” “Nanti,sepuluh menit lagi,” kata sang Pangeran. Sementara itu orang-orang Zuluh telah mengepung mereka,dan pangeran itu akhirnya mati terbunuh (Kis.24:25)
Dibawah bendera
Seorang warga inggris yang tinggal di Kuba,dijatuhi hukuman mati karena diduga keras telah melakukan pengkhianatan. Dengan ditutup matanya ia dituntun untuk ditembak mati. Konsul Inggris dan Amerika memprotes,karena orang itu dipandang tidak bersalah,tetapi sia-sia saja. Regu penembak sudah siap ketika kedua konsul tersebut turun dari kendaraan mereka. Keduanya bergegas menudungi seluruh orang terpidana itu dengan kedua bendera kebangsaan mereka,sambil berkata,”Tembaklah,kalau Berani,: demikianlah orang itu dilindungi kemudian dibebaskan.

Seorang Pangeran yang Kafir

       

Pada masa pemerintahan Raja Charles II dari inggris, tidak ada yang sifatnya seburuk pangeran dari Rochester. Ia meragukan Tuhan,walau orangnya tampan dan jenaka. Jhonson menggambarkan dia sebagai " Pemabuk, sensual (gemar memuaskan dorongan seksnya), tidak bermutu, tidak berguna, pada usia tiga puluh satu tahun sudah kehabisan tenaga seperti seorang kakek, dan keadaannya sudah sangat merosot serta rapuh, kejahatannya disembunyikan dibalik kefasikannya.

        Setelah kembali ke tempat kediamannya di Somereset, pendeta ibunya membacakan Yesaya 53 kepadanya. Mlelalui kata-kata agung ini, yang menggambarkan penderitaan Kristus-ia akhirnya bertobat. Fanshaw,seorang temannya yang juga seorang kafir, mendapati sang pangeran ini sedang berdoa dan ia segera lari meninggalkan tempat itu dengan sangat ketakutan. Kata-katanya yang terakhir ialah, " O, alangkah rindunya saya meninggalkan dunia ini dan tinggal bersama-sama dengan juru selamat saya.

Template by:

Free Blog Templates